Desa Gedangan

Kec. Sidayu
Kab. Gresik - Jawa Timur

Artikel

Sejarah Desa Gedangan

Administrator

10 Mei 2023

432 Kali dibuka

Pendahuluan

Desa Gedangan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik berbatasan dengan Desa Doudo, Desa Petung, Desa Wotan, Desa Sukorejo,  dan Desa Wadeng. Di Desa Gedangan mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani, buruh tani, dan pedagang. Desa Gedangan memiliki banyak versi terkait sejarah asal-usul nama Desa Gedangan. Berikut adalah sejarah Desa Gedangan menurut cerita tutur para tetua desa.

 

Asal-usul Nama Desa

Dahulu kala, ada seorang putri yang sangat cantik, namanya Putri Kabonan. Singkat cerita, sang Putri tersebut akan dipersunting oleh seorang Raja, yang bernama Joko Slining. Tetapi, sang Putri meminta syarat-syarat tertentu kepada raja tersebut. Menurut cerita, Sang Putri sebetulnya tidak berkenan dipersunting oleh raja. Sehingga sebelum semua persyaratan itu terpenuhi, sang putri melarikan diri. Sang raja menyadari bahwa persyaratan semua itu hanya untuk menghalanginya mempersunting sang putri. Raja tahu sang putri melarikan diri, lalu sang raja mengejar (mencari) sang putri ke manapun sang putri pergi.

Dari beberapa tempat yang disinggahi oleh sang putri selama dikejar oleh sang raja, lahirlah nama-nama/istilah tempat tersebut. Hal inilah yang melatar belakangi asal-usul nama-nama desa termasuk Desa Gedangan.

Nama Desa Gedangan menurut cerita tutur tetua desa diambil dari saat peristiwa Joko Slining mengejar/mencari Putri Kabonan di suatu tempat dimana mereka dihadang oleh masyarakat setempat agar tidak memasuki wilayahnya. Sejak saat itu masyarakat menyebut tempat itu Gedangan, yang berasal dari kata ngedang (bahasa jawa) atau dalam bahasa Indonesia berarti menghadang.

Sedangkan versi lain menyebutkan, bahwa saat itu sang putri bersembunyi di pohon pisang agar tidak terlihat oleh raja. Dan akhirnya masyarakat menyebutnya Gedangan, yang berasal dari kata Gedang (Pisang).

Adapun versi lain daripada di atas, menyebutkan bahwa nama Desa Gedangan berasal dari bahasa jawa, yaitu ngged-ngged-an(dalam bahasa Indonesia dapat pula disebut garis putus-putus).

 

  1. Babakan Sumur Gedhe

Sebelum sekarang, pemukiman penduduk pertama kali berada di wilayah timur desa dan wilayah itu oleh masyarakat disebut Krasak. Konon, di tempat tersebut terdapat sebuah sumur yang menjadi sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dulu. Sumur tersebut diapit oleh dua pohon Asem yang kembar. Kedua pohon Asem itu dipergunakan sebagai tiang alat kerek (terbuat dari bambu) untuk menimba air di sumur. Tapi, semua itu sekarang sudah tidak ada bukti fisiknya hanya tinggal cerita.

Tidak disebutkan sampai tahun kapan pemukiman penduduk tersebut akhirnya mulai berpindah ke wilayah selatan. Karena berdasarkan cerita, ada penemuan sumber air berupa sumur di daerah selatan atau sebelah barat ke selatan (barat daya) dari pemukiman awal penduduk. Tidak disebutkan pula siapa penemu sumur tersebut, hanya diceritakan bahwa ada seseorang yang saat itu tanpa sengaja menemukannya, ia mendengar ada suara kodok dan ditelusuri ternyata ada sebuah lubang diantara semak, lalu ia melemparkan batu ke lubang tersebut, batu itu jatuh dan terdengar sepertinya ada air di dalam lubang itu.

Oleh karena itu, para penduduk berpindah ke sekitar sumber air tersebut, dan sumber air itu oleh masyarakat setempat disebut sumur gedhe. Dari sinilah dimulai pemukiman baru (kembali) dan menjadi pemukiman tetap penduduk sampai sekarang. Dan kampung pemukiman yang pertama kali berada di RT. 02 RW. 04 (Kampung Bapak H. Thohir/ Hj. Sapura), dan terus berkembang semakin luas sampai sekarang.

Dilihat dari  pola persebaran desa, pemukiman penduduk Desa Gedangan sekarang mempunyai pola memanjang (linier) yang mengikuti jalan raya atau jalan umum.

 

Babakan Islam di Bumi Gedangan

Di daerah timur desa (Krasak) ada sebuah makam yang oleh para tetua dipercayai sebagai makamnya wong lelakon (seorang musafir). Akan tetapi, para tetua dulu tidak banyak memberikan informasi tentang siapa yang bersemayam di makam tersebut kepada generasi-generasi selanjutnya. Karena dia memang wong lelakon yang bermukim sangat singkat dan kemudian wafat di sini. Tapi, para tetua meyakini bahwa beliau adalah seorang muslim, orang alim, dan masyarakat dulu telah lama melaksanakan ritual sedekah bumi di area makam tersebut.

Di area makam tersebut (tepatnya sebelah selatan makam), juga konon pernah ada sebuah bangunan sebagai tempat ibadahnya beliau atau yang lebih dikenal dengan sebutan masjid. Bangunan tersebut terbuat dari kayu dan dibangun tinggi (tidak datar dengan permukaan tanah) karena untuk masuk bangunan tersebut harus melewati beberapa anak tangga. Dahulu, ketika para tetua (saat masih kecil) bermain naik di puing-puing bangunan tersebut terlihat jelas hamparan bumi Gedangan saat itu. Tahun pembangunan bangunan itu tidak diketahui meskipun dilihat dari tahun kelahiran tetua desa (tahun 1926) sampai pada masa kecilnya, karena ketika masa kecilnya tetua pun hanya tinggal puing-puing saja (yang kemudian selanjutnya sebagian dari puing-puing tersebut dijadikan batu peletakan saat membangun Masjid Jami’ An-Nur Gedangan)

Menurut cerita tetua desa, beliau bernama mbah Sentono. Versi lain menyebutkan, namanya Mbah Subhan. Dan yang terakhir diketahui namanya adalah Mbah Salimin, dan semenjak saat itulah diadakan Haul Desa Gedangan yang kegiatannya di beberapa titik dan berpusat di makam tersebut. Kegiatan tersebut berisi Khotmil Qur’an, Istighotsah, dan manaqib-an

 

Babakan Istilah/Nama-nama di Bumi Gedangan

Pembagian wilayah desa Gedangan didasarkan pada jalan raya dan masih masuk wilayah Desa Gedangan. Adapun pembagiannya sebagai berikut :

Wilayah sebelah timur jalan raya

  • Paling utara, timur jalan, namanya Alas Dandu
  • Sebelah selatannya, namanya Selbak.
  • Sebelah selatannya namanya Songkro
  • Sebelah selatannya lagi, namanya mbudug
  • Sebelah selatannya lagi Krasak

Wilayah sebelah barat jalan raya

  • Paling utara, timur jalan, namanya embong
  • Sebelah selatan, namanya lebo

Di daerah ini juga masih ada peristilahannya, tapi tidak masuk dalam bumi Gedangan. Masyarakat menyebutnya Lemah Awu, Geneng, dan Kyai Macan.

 

SEKILAS TENTANG SONGKRO

Konon di daerah Songkro pernah ada lapangan terbang (lapter) kolonial (Belanda). Menurut cerita, dulunya lapangan terbang ini “dihilangkan” karena invasi tentara Nippon pada masa itu. Untuk mengelabuhi tentara Nippon, tentara Belanda memberikan lahan lapter tersebut kepada para tetua desa untuk segera dijadikan lahan pertanian, agar tentara Nippon tidak menemukan lapter tersebut. Para tetua desa akhirnya memanfaatkan lahan itu untuk pertanian sebagaimana permintaan tentara Belanda. Seiring waktu berjalan, lahan tersebut dijadikan tanah bengkok desa dan masih menjadi lahan pertanian sampai sekarang. Namun, puing-puing atau bekas lapter tersebut tidak ditemukan.

Komentar yang terbit pada artikel "Sejarah Desa Gedangan"

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Kepala Desa

MUHAMMAD SHOLIH, S.Sos, M.Si

Sekretaris Desa

MUHAMMAD ARIF, S.Ag. M.Pd.

Kaur TU & Umum

SITI ZAERINA, S.K.M

Kaur Keuangan

EVI ROHMAWATI AZIZAH, S.H

Kasi Pelayanan

SITI ZAHROTUL MILLA, S.S

Kasi Pemerintahan

MUHAMMAD RIYAN HIDAYAT PUTRA, S.Pd

Kasi. Kesejahteraan

MUHAMMAD IRFA I

Kaur Perencanaan

AHMAD ROSYIDI

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Gedangan

Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Sinergi Program

Komentar

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:21
Kemarin:299
Total:52.694
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:162.159.114.73
Browser:Mozilla 5.0

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-6.969693
Longitude:112.4967685

Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik - Jawa Timur

Buka Peta

Wilayah Desa